GREBEG SURO MASYARAKAT JAWA

http://ejawantahnews.blogspot.com/2011/11/grebeg-suro-masyarakat-jawa.html
Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro merupakan bulan istemewah. Selain bulan pertama dalam kalender Jawa, bulan Suro juga dianggap sebagai bulan yang sangat keramat. Untuk menyambut datang bulan istimewah ini masyarakat Jawa umumnya akan mengadakan berbagai bentuk ritual dan perayaan yang bertujuan agar selalu mendapatkan keberkahan dalam kehidupan dan dihindarkan dari berbagai malapetaka.

Masyarakat Jawa selalu memandang datangnya bulan Suro sebagai datangnya masa-masa prihatin dalam kehidupan manusia, dan sebagai pintu gerbang untuk masuk ke sebuah keadaan yang baru. Karena itu sebagian besar masyarakat Jawa yang masih kental memegang tradisi budayanya mereka selalu menjalankan laku prihatin, yang bertujuan agar mendapatkan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa, agar bisa menjalani hidup dengan baik.

Dalam tradisi masayarakat Jawa ada keyakinan bahwa sukerta atau sengkala ini harus diruwat atau dibersihkan. Bila tidak hal ini diyakini akan menjadi mangsa Bhatara Kala. Yang mana bisa diartikan bahwa hidupnya akan senatiasa sengsara karena selalu dibayang-bayangi oleh bencana.

Entah benar atau tidak, kepercayaan tersebut hingga kini masih tetap dijalankan, dan ritual ruwatan sebagai taradisi masyarakat Jawa. Dalam ritual ruwatan tersebut biasanya akan digelar pertunjukkan wayang yang menceritakan tentang kisah hidup Bhatara Kala dari lahir hingga akhirnya mati. Dan matinya Sang Bhatara Kala ini dipandang sebagai simbol dibersihkannya sengkala dalam diri para peserta ruwatan. Sehingga di waktu yang akan datang, mereka akan hidup dengan tenang, tanpa ada rasa takut karena bayang-bayang bencana dari Bhatara Kala.

Puncak dari acara ruwatan biasanya akan diikuti dengan pemotongan sebagian rambut dan kuku dari peserta sebagai simbol dari kebersihannya atas kesialan dalam diri mereka. Kemudian benda-benda itu dikumpulkan bersama pakaian yang dikenakan untuk selanjutnya dilarung ke laut. Namun sebagian kalangan ada yang berpendapat dan mempercayai bahwa melarung benda-benda tersebut juga dapat dilakukan di sungai yang airnya mengalir cikup deras. Apa yang dilakukan dalam prosesi ritual tersebut hanyalah simbol dari dibuangnya segala ssengkala dari dalam diri seseorang.

Bentuk lain ritual yang digelar masyarakat Jawa demi menyambut datangnya bulan Suro, diantaranya adalah menjamas pusaka serta melarung berbagai macam sesaji di tempat-tempat keramat yang dalam hal ini adalah Laut Selatan.

Ritual di bulan Suro yang paling populer adalah larung sesaji ke Laut Selatanm. Yang mana dalam ritual ini ada satu sosok yang menjadi tokoh sentral yaitu Nyi Roro Kidul, yang mana dipandang sebagai sosok penguasa alam gaib di tanah Jawa.

Larung sesaji sendiri tidak hanya dilakukan di satu tempat. Hampir setiap kelompok masyarakat di pesisir Pantai Selatan Pulau Jawa mengadakan acara ini. Hanya saja bagi mereka berlaku waktu-waktu tertentu yang antara satu dengan yang lain memiliki perbedaan.

Larung sesaji yang paling tersohor dan selalu mencuri perhatian banyak orang, baik itu wisatawan domestik maupun internasional adalah larung sesaji yang dilakukan di Pantai Parangtritis Jogjakarta pada tanggal 1 Suro (kalender Jawa) atau 1 Muharam (kalender Islam).

Biasanya ritual larung sesaji diprakarsai oleh pihak keraton Jogjakarta yang memiliki kepentingan, mengingat dalam sejarah di ceritakan bahwa Panembahan Senopati sang raja pertama bertemu dan mendapatkan bantuan Ratu Kidul di Pantai Selatan daerah Jogjakarta.

Berbagai persiapan dilakukan oleh pihak Keraton dalam melakukan upacara ritual yang akan dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Persiapan-persiapan itu tidak lain yang terkait dengan sesaji yang niatnyua akan dibuang ke tangah laut dan diperebutkan oleh para pengunjung.

Larung sesaji tersebut merupakan simbol dari hobi yang dilakukan masyarakat sekitar pantai selatan pada Sang Penguasa alam gaib di sana, yang bertujuan agar senantiasa bisa hidup berdampingan dengan damai. Sehingga aktifitas sebagai nelayan bisa berjalan tanpa gangguan. Yang ujung-ujungnya rejeki semakin bertambah, karena hasil tangkapan ikan di laut bisa berlimpah.

Hal yang tidak kalah mistis sebagai penghormatan atas datangnya bulan Suro (kalender Jawa) atau pun bulan Muharam (kalender Islam) masyarakat Jogja dan solo memilki tradisi yang unik yaitu melakukan ritual tapa bisu sambil mengelilingi benteng Keraton. Ritual ini digelar tapat pada malam 1 Suro, dan diikuti oleh seluruh abdi dalam Keraton serta masyarakat di sekitar Keraton.

Khusus untuk Kota Solo, rotual ini biasanya akan diikuti dengan kirab kerbau bule yang dikeramatkan yang bernama Kyai Slamet. Prosesi ritual ini cukup sederhana karena nyaris tidak memerlukan berbagai perlengkapan termasuk sesaji. Karena inti dari ritual ini adalah intropeksi diri dan menyatu dalam keheningan malam 1 Suro (kalender Jawa) atau 1 Muharam (kalender Islam).

Ritual biasanya akan dimulai tepat pukul 00.00, sebagai tanda telah masuk tanggal 1 Suro. Rombongan pelaku ritual akan berangkat dari halaman Keraton dan terus menyusuri beberapa jalanan disekitar Keraton hingga mengitari seluruh tembok benteng Keraton. Jumlah putaran mengelilingi benteng selalu ditetapkan dalam bilangan ganjil, sebab jumlah ini dipandang memiliki nilai yang baik dan akan membawa keberkahan.

Puncak dari ritual ini adalah pada keesokkan harinya yaitu berebut berkah dari tumpeng raksasa yang disediakan oleh pihak Keraton. Acara yang biasa disebut Gerebeg Suro ini selalu menjadi perhatian banyak orang. Karena masyarakat Jawa yang masih kental akan tradisi budayanya memiliki kepercayaan bahwa, barang siapa yang berhasil mendapatkan sebagian dari sesaji tumpeng tersebut itu, maka akan senantiasa dilimpahkan keberkahan dalam kehidupannya.

Suatu hal yang menarik dalam acara ritual Grebeg Suro ini yang menjadi catatan penulis dari masyarakat Jawa yang masih memegang tradisi budaya, yaitu bahwa masyarakat diajarkan untuk selalu berbuat kebaikan  dengan selalu bersedekah kepada  setiap makhluk yang ada di alam semesta ini, agar kehidupan dapat berjalan seimbang seiring sejalan antara manusia dan alam.


Dalam catatan penulis, bahwa sang penguasa (raja) dengan kearifannya mengajak kepada masyarakatnya untuk selalu menjalan perintah agama dengan melakukan shodaqoh secara berjamaah, agar siapa yang terlibat dalam acara tersebut nilainya sama di mata Tuhan. Dan kehidupan kepemerintahan pun berjalan secara damai, masyarakat akan hidup dalam keberkahan. Suatu pembelajaran yang berarti dalam kehidupan, dengan pengejawantahan kalam Illahi di setiap lubuk hati manusia.

Namun terkadang masih banyak diantara kita yang selalu melihat hal ini hanya sebelah mata, tanpa mau mau melihat apa yang tersirat dalam penyampaian suatu upacara ritual yang sesungguhnya. Bahwasanya suatu tradisi budaya itu terdapat pembelajaran budipekerti yang luhur atau dengan bahasa agamanya adalah akhlaq mulia sebagai pegangan hidup.

Bila kita dapat menikmati suasana perjalanan ritual ini, maka kita dapat merasakan apa arti sebuah berbagi bersama tanpa harus meninggalkan suatu tradisi unsur budaya yang eksotik bernilai religius.Melihat secara langsung betapa seorang pemimpin berbaur bersama rakyatnya dan dapat memberikan kebahagian secara langsung kepada masyarakatnya. Dan suasana ini hanya ada di Jogjakarta dan Solo, Jawa Tengah Indonesia.

Ikuti penelusuran penulis di Pantai Parangtritis Yogyakarta


Salam,

Sumber Gambar :
beberapa sumber Wikiepedia
 



Facebook +Google Twitter Digg Technorati Reddit

Written by : Indra Kusuma - Describe about us

Website Blog ini berisikan artikel-artikel yang berisikan tentang ilmu pengetahuan untuk berbagi baik dari pengalaman pribadi maupun dari beberapa sumber.

Join Me On: Facebook | Twitter | Google Plus :: Thank you for visiting ! ::

Artikel Terkait:

13 komentar

wah lengkap komplit artikel kupas tuntas bulan suro

happy blogging

wah, saya juga orang Jawa. senang melihat ini. Pengaruh Islam telah membuat setiap ritual diawali dengan doa

ritual adat yang masih dipertahankan ya di jawa tengah

Kalau di kampung saya dulu setiap bulan suroo selalu berkumpul di tengah kampung Om, setiap warga membawa takir dan ayam di ingkong trus makannya sama-sama.
Tapi skg sudah tidak pernah lagi...kalau kalau masukk bulan ini kami selalu di bilang tidak boleh melakukan perjalanan jauh ataupun keluar rumah.

Entahlah...tapi ikut apa yg di bilang orang tua aja.

tradisi masyarakat jawa yang jadi warisan budaya dan harus tetep lestari, namun jangan sampai membawa kita ke dalam jurang kesyirikan.

grebeg suro saya hanya saksikan lewat tipi. meriah. trasa magis. sakralitas agama terlihat rancu seperti di kebanyakan acara adat di daerah2 lain

klo di daerahku biasanya di bulan surau pada rajin sekali jamaah shalat 5 waktu selama 40 hari dan orang tua pada suluk di tempat masjid sokaraja.

@ Wisata Murah >>>
:-| Happy Blogging Mas, sukses selalu.


@ Ami >>>
:)Benar Mba, karena budaya suatu sarana untuk berdakwah dan memberikan suatu pembelajaran bagi masyarakat daerah setempat untuk lebih mengena dalam nurani. Sukses selalu.

@ Lidya - Mama Pascal >>>
:) Tentunya di setiap daerah , memiliki ritual melalui adat dan budayanya masing-masing dengan satu tujuan, yaitu mengenal jati dirinya beserta Tuhannya Mba. Hanya caranya mungkin yang berbeda-beda. Dan hal ini sebagai aset budaya bangsa Indonesia. Sukses selalu.

@ Adini >>>
:)Terkadang suatu pembelajaran dari suatu tradisi memiliki filosofi kehidupan tersendiri. Yang mana semuanya bertujuan baik. Yang terpenting kita tidak boleh meninggalkan suatu keyakinan khususnya apa yang telah kita yakini dalam hal agama. Sukses selalu.

@ mabrurisirampog >>>
:)Semoga kita dapat terus melestarikan unsur budaya bangsa kita, tanpa harus menggadaikan keimanan kita. Dan yang paling terpenting tidak menindas budaya sendiri dengan selalu mengklaim budaya asing yang terselimuti bahasa kebenaran, karena tidak ada suatu budaya di suatu negara atau pun daerah yang mengajarkan kejelekkan. Hanya manusialah yang tidak dapat menyaring dan menyampaikannya dengan cara suatu tindakan yang tidak menyakiti orang lain. Sukses selalu.

@ rusydi hikmawan >>>
:)Bagi kaya maca orang awam mungkin seperti itu Sob. Namun bila kita mau melihat pesan yang tersirat dalam pelaksanaannya banyak sekali pembelajaran mengenai budipekerti. Hanya kita harus melihat ini bukan hanya satu sudut pandang saja. Sukses selalu.

@ Baha Andes >>>
:) Benar sekali Mas, pada intinya setiap bulan Suro bertepatan dengan malam tahun baru Hijriah, setiap daerah dengan bahasa pengantarnya melalui budaya dan adat istiadat mengajarkan dan mengarahkan kepada masyarakat untuk membersihkan diri dengan melakukan ritual mendekatkan diri kepada Tuhan. Sukses selalu.

Masih banyak tradisi yang dipertahankan ya. Semoga nggak bertentangan dengan ajaran Islam :)

info menarik, stp upacara pst mmliki nilai pilosofi jd ptut diketahui jgn trbru2 dg pikiran ngtif dlammnilainya :)
jgn lupa mampir ke eMingko Blog

Kalo di kampung saya, malam satu suro dan satu suro adalah masanya bagi murid-murid dua perguruan silat besar, Terate dan Winongo untuk "duel tidak resmi" dijalan. Entah nanti apa masih ada. Hehehe...

@ kakaakin >>>
:) Sebuah tradisi ataupun budaya selalu memiliki pelajaran mengenai filosofi kehidupan yang selalu mengajarkan dan mengarahkan kita untuk berbuat kebaikan agar selalu menjaga kesinergian hidup bersamadengan setiap makhluk ciptaan Tuhan yang ada di alam semesta ini, tanpa harus mengesampingkan keyakinan yang telah kita miiliki, namun hanya caranya yang berbeda. Sukses selalu.


@ askep >>>
:) Benar sekali mas dan sukses selalu.

Terimakasih Atas Kunjungannya. Sebuah Komentar Merupakan Cermin Kepribadian Diri Kita. Komentar yang berbau iklan atau dengan memasang link iklan akan dihapus tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Sukses Selalu Untuk Kita Semua.

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus